Sunday, 4 June 2017

Kerjasama Turki dan China COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Menurut mitra saya di Ankara sekarang keadaan ekonomi Turkey melesu. Fundamental ekonomi retak. Ini ditandai oleh meningkatnya risiko perbankan, rasio loan to deposit tinggi dan meningkatnya Non performing loan, CAR yang semakin tergerus. Akibatnya banyak Bank di Turki menghentikan ekspansi kredit. Dunia usaha stuck.

Meminta bantuan kepada Amerika dan Eropa adalah tidak mungkin. Karena kedua Negara ini sedang dilanda krisis financial. Investor asing private enggan masuk karena resiko konflik di Suriah dan irak mengancam territory Turkey. Berkali kali Rudal mengenai wilayah Turkey. Turkey memang menghadapi masalah serius.

Agar proses pembangunan bergerak maka Turkey harus menarik hati China untuk masuk ke Turkey. Upaya ini sudah di lakukan sejak beberapa tahun lalu. Namun tidak mudah terutama dengan maraknya demonstrasi anti-Cina di Turki.

Di tambah lagi keputusan Ankara untuk membatalkan kesepakatan sistem pertahanan rudal yang awalnya diberikan kepada sebuah perusahaan Cina. Yang di susul keputusan Beijing untuk memperketat persyaratan visa bagi pemegang paspor Turki. Walau begitu China tahun lalu sempat memberikan pinjaman sebesar Eruo 1,8 miliar atau Rp. 25 triliun dalam bentuk kredit ekspor.

Masalah lainnya sebelumnya China tidak begitu nyaman berteman dengan Turkey yang berbeda kebijakan politik international khususnya sikap Endorgan yang anti China. Itu sebabnya ada 46.756 PMA di Turki yang terdaftar pada tanggal 1 Januari, 2016, hanya 739 yang dimiliki Cina. Namun kini keadaan berbalik. Turkey harus mampu merebut cinta China.Kedepan PMA China akan mendominasi di Turkey.

Walau sebagian ormas di Turkey menolak kehadiran China namun pemerintah Turkey tidak punya pilihan lain. Ancaman fundamental ekonomi turkey hanya bisa di selesaikan bila pasar uang dan perbankannya sehat. Setidaknya Turkey bisa meniru Yunani dan Iran yang bisa recovery berkat dukungan dari China.

Itulah sebabnya tahun ini OJK Turkey memberikan izin kepada Bank Of China ( BOC) untuk membuka cabang di Turkey. Sebelumnya ICBC ( Industrial Commercial Bank of China ) sudah lebih dulu masuk dengan mengakusisi bank local.

Sehingga praktis perbankan raksasa BUMN China memastikan leading menggerakan dunia usaha Turkey. Kedua bank tersebut akan jadi gateway investment ke Turkey. Terbukti sekarang Bank of China telah menjadi pemberi pinjaman kedua terbesar di Turki, dan ini tentu perkembangan positif, baik dari segi ketersediaan dana untuk sektor swasta Turki maupun untuk kemajuan kerjasama antara Turki dan Cina.

Bagi dunia usaha China adalah penting untuk memiliki pijakan di pasar keuangan Turki, karena Turki memiliki ekonomi terbesar kedelapan belas di dunia dan sektor swasta yang kuat yang memiliki kemampuan untuk terus bergerak maju meskipun ketidakstabilan politik dan ekonomi.

Selain itu, kemajuan yang diharapkan sebagai inisiatiff "One Belt, On The Road" (Obor) dan lokasi strategis Turki sebagai rute perdagangan yang menghubungkan antara Asia dan Eropa diperkirakan akan membuka prospek bisnis yang menguntungkan bagi China dalam waktu dekat.

Bagi Turki, hadirnya BOC dan ICBC yang merupakan bank terbesar di china adalah sikap realistis ditengah krisis ekonomi karena melemahnya kepercayaan investor internasional dan meningkatnya risiko geopolitik.

Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Simsek mengatakan bahwa BOC akan "berkontribusi terhadap upaya untuk menarik investasi China ke Turki dan meningkatkan peluang pembiayaan bagi sektor swasta."

Sebagian elite Turkey menyikapi ini dengan sinis. Mereka tidak begitu yakin bahwa China serius memberikan dukungan pembiayaan dan investasi. Namun keraguan ini di tepis oleh pemerintah China dan Turkey.

November tahun lalu di tanda tangani perjanjian antara Turki dan China untuk membangun jalur kereta dari China ke turkey dan terhubung dengan seluruh Negara di Asia Tengah. Ini tentu melibatkan pendanaan raksasa dan tentu kalau di realisasikan dunia usaha Turkey dan pasar uangnya akan bergairah.

Ini sama mahalnya dengan ambisi China menghubungkan ASEAN dengan China melalui pembangunan jalur kereta dari Nanning ( Guangzie ) ke Singapore melalui Thailand, Malaysia. Lima tahun lalu saya sempat terkejut ketika teman di Eropa berkata bahwa jalur sutra ke Eropa telah ditembus oleh China dengan selesainya proses pengambil alihan Pelabuhan Laut ( Yunani ) Pier Two oleh Cosco ( BUMN china dibidang pelayaran ). Kini Turki sudah pula menjadi bagian dari geostrategi China.

Tidak ada lagi Idiology atau agama sebagai pijakan kerjasama. Dunia kini bicara soal kepentingan ekonomi. Siapa yang bisa bantu, maka dialah sahabat. Dunia semakin terbuka dan semakin tergantung satu sama lain. Ditambah lagi, duniapun semakin padat populasinya sementara daya dukung kebutuhan konsumsi semakin terbatas. Maka kerjasama atas kesetaraan tidak bisa di hindari. Mari bijak menyikapi situasi global.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)