Tuesday, 31 March 2015

KESAKSIAN BASUKI TJAHAJA PURNAMA (AHOK)


KESAKSIAN BASUKI TJAHAJA PURNAMA (AHOK)
Creative common image by Lukas

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. 

Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. 

Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pandangan Hutomo Mandala Putra Mengenai Soekarno dan PKI di INDONESIA


Pandangan Hutomo Mandala Putra Mengenai PKI di INDONESIA
Creative Common Image by Putra Soeharto

Saya pernah bertanya pada HMS kenapa HMS mengambil inisiatif untuk Membubarkan PKI padahal Bung Karno tetap Bertahan tidak Mau Membubarkan PKI ?

Ini jawaban HMS:..

Sebagai Bawahan ayah wajib melindungi Harga Diri bung Karno karena Kapasitas nya sebagai pemimpin besar dan juga di akui sebagai pemimpin besar dunia, bung Karno sudah mengucapkan pemikirannya kepada dunia tentang menyatukan Nasionalisme, Agama, dan Komunisme Melalui sidang Umum PBB. Bung Karno menyebut Gagasannya itu "to build a new world".

Setelah melontarkan di forum internasional, Bagai mana mungkin Kemudian Bung Karno mau membubarkan Partai Komunis Indonesia PKI?..

"Jadi Ayah berpikir biarlah Ayah yang membubarkan PKI yang semakin merajalela saat itu"

"Kadang kala Bawahan Harus mengerti keteguhan seorang pemimpin, karena saat itu jika sampai bung Karno Membubarkan PKI dan menjilat ludah sendiri maka akan di cap Apa negara kita ini di mata internasional....

Ayah mengambil inisiatif karena ayah juga sudah menyadari Risikonya"

Tidak masalah ayah disalahkan kelak, namun pasti suatu hari anak cucu bangsa ini akan mengerti dengan sendirinya Apa arti kebenaran dan kesalahan di masa - masa perjuangan"...

"Itu jawaban yang saya dengar langsung dari Almarhum HMS"

Sekian, Besok kita lanjut lagi:)

Pandangan Hutomo Mandala Putra Mengenai PKI di INDONESIA
Creative Common Image by Putra Soeharto

Berikut sedikit cerita HMS tentang Pembubaran PKI yang diumumkan pada tanggal 6 oktober 1966.

Setelah dibubarkan suhu politik tetap memanas, rakyat dan mahasiswa tetap menuntut agar bung karno segera mengundurkan diri dari jabatannya selaku Presiden. Saat itu HMS diberi tugas berulang kali meredam berbagai demonstrasi besar besaran yang dilakukan mahasiswa, termasuk yang dilakukan di depan Istana Bogor.

Di masa itu sebenarnya Ayah sering mengunjungi istana bogor, menghadapi ayah yang selalu bersikap santun dan selalu tetap menghormati bung karno, sementara bung karno juga mengetahui bahwa keputusan atas tuntutan rakyat yang kian marak terhadapnya juga bergantung pada kebijakan yang akan diambil ayah, bung Karno Akhirnya Bertanya :

Anak Yoris Raweyai Roger Trianto Meles SERANG Ali Mochtar Ngabalin


Anak Yoris Raweyai Roger Trianto Meles SERANG Ali Mochtar Ngabalin

Sehabis debat secara langsung di Televisi Swasta Nasional, Anak Yoris Raweyai, Roger Trianto Meles menyerang Ali Mochtar Ngabalin. Buah jatuh tak jauh dari Pohonnya.

Anak Yoris Raweyai Roger Trianto Meles SERANG Ali Mochtar Ngabalin

Anak Yoris Raweyai Roger Trianto Meles SERANG Ali Mochtar Ngabalin

Anak Yoris Raweyai Roger Trianto Meles SERANG Ali Mochtar Ngabalin


"Saya malah bangga bisa melakukan hal itu kepada Ali Mochtar Ngabalin. Karena kalau tidak begitu, bukan tidak mungkin nama besar Pak Yorrys tercoreng gara-gara ulahnya," Begitu ucap Roger Trianto Meles.

"Bang Ali melecehkannya dua kali. Pertama dalam siaran televisi TVOne, kedua saat diskusi di Metro TV." Sambung Roger.

Amarahnya pun reda dan menjadi Penyesalan di ujung hari, berikut adalah permohonan Maaf Roger Melles kepada Ali Mochtar Ngabalin.

Anak Yoris Raweyai Roger Trianto Meles SERANG Ali Mochtar Ngabalin
Creative Common Image by Roger Melles





Hutomo Mandala Putra Mengecam Yoris Raweyai - Kisruh Partai GOLKAR


Hutomo Mandala Putra Menantang Yoris Raweyai - Kisruh Partai GOLKAR
Creative common image by Putra soeharto


Tindakan palang pintu, atau lebih jelasnya pengambil alihan paksa sekretariat fraksi sebelum ada keputusan jelas yang dilakukan Agung Laksono CS, lebih terlihat seperti penguasaan paksa dalam permainan perang perangan sekumpulan anak2 sekolah dasar..

Saya mengecam keras perilaku yoris yang selama ini saya anggap teman tapi ternyata lebih pantas di anggap pecundang, perilaku anda seperti anak kecil yang hendak belajar tawuran, belajar mengikuti kakak kakaknya yang sudah lebih dahulu memiliki mental tawuran, mental memang doyan tawuran namun selalu berusaha tampil di belakang saat bertemu lawan, jika kelompok terdesak akan menjadi terdepan dalam hal melarikan diri..

Kalau mau main keras saya juga punya sisi keras, sebaiknya jangan main - main dalam masalah ini...

Partai Golkar jangan sampai anda jadikan Arena Perang jika anda sendiri tidak ingin diperangi..

Saya berbicara seperti ini bukan karena saya membela saudara saya, tapi tindakan anda sepertinya ingin memancing seberapa besar kesabaran saya..

Hutomo Mandala Putra Mengecam Yoris Raweyai


Anda sopan saya segan Anda Arogan saya makan...begitu saja kok Repot..!!!

Friday, 27 March 2015

Cyril Noerhadi, Private Equity Creador di Indonesia


Cyril Noerhadi yang sudah berpengalaman selama 23 tahun sebagai profesional dalam bidang industri jasa keuangan di di Indonesia kini berpindah jalur menjadi seorang wirausaha dengan membangun sebuah bisnis private equity bernama Creador sejak September 2011. 

Cyril cukup lama menjalani karier sebagai Chief Financial Officer Medco Energy, yaitu sejak tahun 1999 hingga 2005. Di tahun 1999 juga, Noerhadi berperan sebagai Corporate Finance di PricewaterhouseCoopers Indonesia. 

Di lembaga konsultan global ini dia banyak terlibat dalam sejumlah rekstrukrisasi perusahaan, akuisisi dan penjualan aset, valuasi dan due dilligence, serta menjadi penasehat keuangan perusahaan. 

Sebelumnya, Cyril pernah menjabat sebagai Ditektur Utama PT Bursa efek Jakarta tahun 1996 -1999 saat usianya baru 37 tahun. Kini Doktor bidang Manajemen Strategis Universitas Indonesia itu tengah sibuk membangun  perusahaan barunya, yakni Creador. Apa dan bagaimana Cyril menjalani profesi barunya ini? Berikut wawancara reporter SWA Arie Liliyah dengan Cyril Noerhadi.

Cyril Noerhadi, Private Equity Creador Indonesia
Creative common image by Swa

Bagaimana mulanya tercetus pemikiran menjalankan usaha private equity?

Creador itu berdiri September 2011. Waktu itu saya berpikir, Indonesia ini kan negara
berkembang yang membutuhkan banyak investasi, sehingga bisa menciptakan lapangan
kerja baru. Saya kemudian bertemu dengan seseorang bernama Brahmal Vasudevan.

Dia adalah orang Malaysia yang memiliki pengalaman 11 tahun menjadi investor
private equity di India. Saya bertemu dia waktu saya masih bekerja di Pricewaterhouse Coopers, dan Bramal menceritakan cita-citanya untuk membangun private equity yang regional di Asia. Konsep ini dilatarbelakangi oleh pengalamannya selama 11 tahun menetap berpindah-pindah di negera-negara Asia sambil membesarkan private equity miliknya yang bermarkas di India.

Monday, 23 March 2015

Topas Aceh 300 Juta Per Kilogram


BATU giok lagi naik daun. Para kolektor kaya berani merogoh koceknya dalam-dalam untuk mendapatkan batu mulia itu. Berikut catatan wartawan Jawa Pos ENDRAYANI DEWI yang pekan lalu menemui para pencari giok di Nagan Raya, Nanggroe Aceh Darussalam.
-----------------

Topas Aceh 300 Juta Per Kilogram
Creative Common Image by JawaPos


AZAN Asar baru saja terdengar di Desa Krueng Isep, Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Sabtu (14/3). Desa di pucuk gunung dan dikelilingi sungai itu tampak sepi. Meski begitu, sejumlah mobil mewah terlihat berjejer di jalan kecil menuju sungai yang kaya akan emas tersebut. Hampir semuanya berpelat Medan dan Jakarta.

Ya, mobil-mobil itu milik para kolektor batu mulia (gemstone) yang sedang berburu batu giok asal desa tersebut yang terkenal karena kualitasnya nomor wahid. Kualitas batu mulia Aceh disebut-sebut termasuk terbaik di dunia. Konon nomor dua setelah giok Tiongkok.

Karena itu, batu Nagan Raya tidak hanya diminati warga dalam negeri, tapi juga sering diborong pencinta giok dari Korea dan Singapura.

Lokasi tambang batu giok Nagan Raya memang cukup sulit ditempuh. Dari Banda Aceh, kita harus melakukan perjalanan darat enam jam, melewati Aceh Besar, Meulaboh, Calang, Aceh Jaya, baru Nagan Raya. Setelah itu, dilanjutkan dua jam perjalanan menuju Desa Krueng Isep. Jalannya sempit dan berkelok-kelok sebelum sampai di desa pucuk gunung tersebut.

Dari desa itu, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi pencarian giok di Alur (Sungai) Tengku. Tidak main-main, jaraknya sekitar 15 km! Jalan ke lokasi memang belum bisa dilalui kendaraan. Selain masih jalan setapak, posisinya naik ke puncak.

Friday, 20 March 2015

KESAKSIAN PDT. MUHAMAD HUSEIN. (Pendeta Asal Aceh, Muhamad Husein)


KESAKSIAN PDT. MUHAMAD HUSEIN (KEPALA SAYA DI HARGAI 5.000.000)



Dibenaknya tidak pernah terpikir sedikitpun untuk pindah agama. Tapi rencana Tuhan lain. Di usianya yang tiga tahun, pria kelahiran Sigli, Aceh Pidie, 14 Agustus 1951 ini ikut ayahnya yang militer pindah tugas ke Medan. Ayahnya mempunyai 4 istri. "ibu kandung saya meninggal waktu saya masih kecil.

KESAKSIAN PDT. MUHAMAD HUSEIN. (Pendeta Asal Aceh, Muhamad Husein)
PDT. MUHAMAD HUSEIN

"Saya menyelesaikan studi saya sampai menjadi calon uztad," tutur Pdt. Muhamad Husein Hosea. Di Medan ia ikut organisasi yang kala itu ingin membentuk Aceh Merdeka. "Kami memerangi orang Kristen dan Batak. Saat itu saya menjabat sebagai Sekjen. Tujuan kami membentuk RI jadi negara Islam. Dimasa itu saya juga masuk anggota Komando Jihad," tuturnya.

Tahun 1967, katanya, mereka merusak sejumlah gereja di Aceh sehingga tinggal dua gereja. Itupun karena kedua gereja tersebut berada di lingkungan Angkatan Laut. Aksi itu berlanjut ke Sumatera Utara. "salah satu aksi kami adalah membom Gereja Methodist Indonesia di Medan tahun 1971" jelasnya.

::Membunuh Pendeta

Pada akhir 1972, ia diperintahkan membunuh pendeta HKBP Teladan, Medan. "Selama empat minggu berturut turut, saya bersama teman teman saya mempelajari tentang pendeta itu. Sehari sebelum hari H, gereja itu kami tebari kotoran manusia" ucapnya. Pada hari H dengan bersenjatakan Golok dan rencong, mereka sudah berada di Gereja itu sejak pagi hari.

Monday, 16 March 2015

Masa kecil Abraham Lunggana alias Haji Lulung


Masa kecil Abraham Lunggana alias Lulung serba sulit. Setelah ayahnya meninggal, Lulung mengais sampah di pasar Tanah Abang untuk membantu ibunya. Hidup bertahun-tahun di Tanah Abang membuat Lulung paham pasar itu sumber uang yang tak akan pernah kering. Ia menyingkirkan para penguasa Tanah Abang sebelumnya. Sekarang hidup Lulung serba mewah. Jauh dari bau sampah.

Belakangan Lulung masuk dunia politik dengan masuk menjadi anggota Partai Persatuan Pembangunan yang kemudian membawanya duduk sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta. Ia menjadi satu-satunya penguasa Tanah Abang saat ini. Berikut petikan wawancara Lulung dengan Tempo, Kamis, 15 Agustus 2013 di kantornya lantai 9, gedung baru DPRD DKI Jakarta.

Masa kecil Abraham Lunggana alias Haji Lulung


Bagaimana cerita Anda sampai masuk ke pasar Tanah Abang?

Hidup saya diuntungkan. Saya ditinggal orang tua (ayah) kelas 3 SD. Orang tua saya veteran dimakamkan di Kalibata tahun 1975 saat saya kelas 3 SMP. Ibu saya tiap hari goreng dua telor untuk makan anak-anaknya. Telur dibagi delapan. Ibu bilang jangan nambah, ya. Saya ingat tuh. Rumah saya dekat pasar, jaraknya 50 meter. Tiap pagi saya salat Subuh, terus langsung cari uang. Pulang ke rumah bawa uang Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Saya beri ke ibu. Saya dapat uang dari cari sampah, cari kardus, besi di pasar Tanah Abang. Saya berkelahi dengan pemulung untuk dapat sampah. Kemudian saya dipukuli, digebukin media. Saya dibilang preman. Tadinya saya bangga dikatakan preman (tertawa lebar). Begitu jadi begini (Wakil Ketua DPRD), anak saya mulai besar, lalu mereka tanya mamanya. “Mama, Bapak preman ya?” Dijelasin deh oleh mamanya. Kebetulan istri saya asli orang Tanah Abang. Dulu rumahnya cuma 5 rumah jaraknya dari rumah saya.

Anda sendiri asalnya dari Betawi?

Saya Betawi-Banten. Nenek Betawi, kakek Banten. Ibu saya asli Betawi.

Kami dengar mobil Anda ada 35 unit?

Sekitar 30-an lah. Duit di sini saya bagi-bagi. (Lulung lalu memanggil seorang stafnya bermarga Butar-butar dan bertanya, ”Proposal di sini banyak atau kagak? Butar-butar menjawab singkat, "Banyak, Pak”. Nah, Rp 3 juta satu hari di sini saja (untuk menyumbang proposal-proposal meminta bantuan dana). Gaji saya cuma berapa duit, sih. Paling cuma Rp 20 juta. Buat saya jangankan harta, masjid saja saya bangun.

Saturday, 14 March 2015

Sulasmo Sudharmo, Ardiansyah dan Gani Rudolf Penggasan dibalik MOCO (PT Woolu Aksaramaya)


Minat baca di kalangan masyarakat Indonesia dewasa ini bisa dibilang masih cukup rendah terutama untuk anak-anak dan remaja usia sekolah. Padahal masa-masa muda seperti ini adalah waktu yang tepat untuk menyerap informasi dari sumber-sumber bacaan. 

Di lain sisi, era internet makin menjalari kehidupan masyarakat. Banyak dampak positif yang bisa diambil sini, namun dampak negatifnya pun tetap ada, seperti kecanduan games di internet.

Melihat fenomena ini, Sulasmo Sudharmo pria kelahiran Kisaran, Sumatra Utara, tergerak untuk berkontribusi untuk menggairahkan minat membaca lewat media internet dengan menciptakan aplikasi Moco. Ia bersama kawan-kawannya, yakni Gani Rudolf dan Ardiansyah, menciptakan aplikasi ini sebagai sarana untuk membuat membaca menjadi lebih menyenangkan.

Sulasmo Sudharmo, Ardiansyah dan Gani Rudolf Penggasan dibalik MOCO
Creative common image by Kontan
Aplikasi Moco dibuat agar penggunanaya dapat membaca buku digital atau e-book sambil bersosial media dengan pengguna lainnya. Sulasmo bilang, karena aplikasi ini adalah perpaduan antara e-book dengan sosial media, sehingga pengguna bisa saling mengikuti atau follow pengguna lain, chatting, dan memberi rekomendasi buku ke sesama pengguna.

Sebelum beroperasi secara komersial pada Juni 2014, manajemen Moco menyiapkan semua sistem selama tiga tahun, mulai pengembangan di sistem operasi ponsel hingga melakukan konversi buku cetak ke bentuk digital. 

Aplikasi ini merupakan bagian dari layanan produk si induk usaha yang bergerak di bidang jasa buku digital dan penerbit digital Aksaramaya.com dengan bendera usaha PT Woolu Aksaramaya.

Asal nama Moco diambil bahasa Jawa yang berarti membaca. Saat ini, kantor Moco berpusat di Jakarta dan memiliki dua kantor cabang yang berada di Yogyakarta dan Batam.

Indra Yustiawan, Head of Communication PT Woolu Aksaramaya menyampaikan, selain ingin meningkat minat baca, visi Moco adalah ingin menularkan minat creative writing kepada anak muda. Para penulis independen pun dapat dengan mudah mempublikasikan karyanya di Moco tanpa membutuhkan waktu lama dan biaya yang banyak.

Di samping itu juga, distribusi buku menjadi lebih mudah. "Dengan adanya Moco juga, kita ikut melestarikan buku-buku tua yang hampir punah, supaya masih bisa dinikmati para pembaca," kata Indra.

Omzet Rp 300 juta

Moco memiliki beberapa fitur yaitu e-pustaka, library, shelf, notes, dan fitur chatting. Lewat fasilitas-fasilitas tersebut, sesama pembaca bisa berinteraksi seperti saling merekomendasikan buku yang mereka baca. Pembaca juga dapat berkomunikasi langsung dengan penulis bukunya sehingga terjadi interaksi yang aktif.

Untuk bisa menikmati buku-buku di aplikasi ini, pengguna wajib memiliki deposit poin. Untuk mendapatkan poin, pengguna harus transfer uang ke rekening BCA dan Mandiri. Misalnya, untuk membeli 50 poin, harganya adalah Rp 50.000, 100 poin senilai Rp 100.000, dan 200 poin senilai Rp 200.000, begitu seterusnya.

Namun jika Anda tidak memiliki poin, ada juga fasilitas fitur free books atau masuk ke fitur e-pustaka dengan cara meminjam. Namun, masa waktunya terbatas dan jika masa pinjam habis, akan terjadi autoreturn dan pengguna tidak bisa meminjam lagi.

Saat ini Moco sudah memiliki lebih dari 15.000 pengguna yang mengunduh Moco di ponsel dan gadget mereka. Jumlah buku yang sudah terdaftar lebih dari 2.000 judul buku dari berbagai penerbit maupun penulis independen. Semua buku yang ditawarkan di sini khusus buku terbitan penulis lokal. Indra bilang, sebagian besar buku yang banyak peminatnya adalah novel. Setelah itu buku tentang bisnis, fiksi, teknologi, psikologi, sains, sosial budaya, dan komik.

Aria Jasa Owner Tees.co.id


Pasar anak muda menjadi salah satu ceruk bisnis yang cukup potensial untuk disasar oleh para pebisnis. Salah satunya lewat sektor fesyen. Terang saja, anak muda memang selama ini sangat lekat dengan tren fesyen dan gaya hidup. Mereka sangat mudah mengikuti tren mode terkini agar selalu terlihat trendi. 

Itulah yang membuat Aria Rajasa, pendiri situs Tees.co.id optimistis membangun situs toko online yang menyasar kalangan anak muda.

Agar usahanya ini berbeda dengan toko online kebanyakan, Aria membuat beberapa perbedaan layanan dalam situs ini. Salah satunya adalah para konsumen bisa memesan produk fesyen yang tersedia di toko ini dengan desain yang mereka inginkan alias customized. 

Produk fesyen yang ditawarkan seperti kaus anak dan dewasa, kemeja, sweater, jacket, casing ponsel, poster dan banyak lagi.

Aria Jasa Owner Tees.co.id
Creative common image by Kontan
Situs ini dibuat berawal dari pengalaman Aria yang kesulitan membeli kaus-kaus clothing line yang sedang tren di kalangan anak muda sejak beberapa tahun silam. Clothing line adalah bisnis pakaian dan produk fesyen karya desainer independen yang biasanya dipasarkan lewat distro-distro atau melalui jejaring sosial (online).

Karena waktu itu selalu ada rata-rata kuantitas minimum yang harus dia beli. Padahal, dia hanya membutuhkan sedikit untuk dia gunakan sendiri. Sehingga dia merasakan kebingungan bagaimana cara mengatasi stok kaus yang berlebih. Dari situ, dia memiliki ide untuk menjalankan bisnis clothing line namun tidak perlu ada kuantitas pembelian minimum bagi para konsumen. "Sehingga masalah kelebihan persediaan bisa diatasi," ujar dia.

Itulah yang membuat situs Tees.co.id terbentuk dengan metode print-on demand, alias dibuat setelah ada pesanan yang datang. Situs Tees.co.id sengaja di bentuk untuk memudahkan para desainer kaus atau yang ingin mencari produk fesyen dengan desain unik dapat dengan mudah mendapatkannya di situs ini tanpa harus ada jumlah minimum pemesanan.

Ada 20 kategori produk

Menurut dia, model situs seperti ini bukan hal baru di luar negeri. Namun Aria mulai memperkenalkan dan mengadadaptasikan di Indonesia. Bersama dengan dua rekannya, Bima dan Gary, mereka mendirikan situs Tees.co.id di tahun 2011. 

Berbekal dari ilmu yang dia dapat dari kuliah di jurusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), Aria mengembangkan situs ini bersama teman-temannya dengan modal yang minimal.

Sebelumnya, Aria memang telah memiliki cukup pengalaman dalam bidang desain web dan blog. Pada tahun 2005 silam, dia sempat membuat desain dan program situs  e-Aceh-nias.org yang isinya menampilkan data bantuan dana untuk tsunami Aceh dari berbagai pihak. Di tahun 2010, dia juga mengembangkan situs toko online gantibaju.com.

Aria bilang, kelebihan situs ini adalah tujuannya yang untuk memudahkan semua orang untuk menjual desain mereka dalam berbagai bentuk produk fesyen tanpa modal dan pengetahuan pencetakan. Arya juga ingin semua orang bebas berkarya dan menghasilkan uang dari karyanya sendiri. Sehingga, setiap orang yang memiliki banyak ide desain dalam kepalanya, dapat membuka lapak sendiri di situs ini.

Potensi Usaha Perusahaan Produksi Tutup Botol Indonesia


Bagi beberapa produk, kemasan punya peran mempengaruhi tinggi rendahnya penjualan. Kemasan memainkan peran penting antara lain bagi produk makanan dan minuman. Siapa, sih, yang berselera untuk menikmati makanan, atau minuman, yang kemasannya terlihat kotor dan tidak higienis?

Seluruh bagian kemasan harus terlihat sempurna. Ambil contoh kemasan yang berbentuk botol. Bahkan tutup sekalipun tidak bisa diremehkan. Bukan apa-apa, jika botol tidak tertutup dengan rapat, isi produk bisa-bisa rusak. 
Potensi Usaha Perusahaan Produksi Tutup Botol Indonesia
Creative common image by kontan
Bila diperhatikan, ada beberapa jenis tutup botol, antara lain jenis sumbat (cork) seperti pada botol wine dan jenis mahkota seperti pada botol minuman tanpa soda, kecap, sambal, dan produk konsumsi lainnya.

Berkembangnya industri kemasan botol juga mengerek produksi tutup botol. Salah satu pengusaha yang melihat celah bisnis ini ialah Komaruddin Aden. Ia mendirikan PT Nakita Adkom di Bekasi, Jawa Barat, yang memproduksi tutup botol sejak 2010.

Akan tetapi, pria berusia 33 tahun ini mengaku sudah membuat tutup botol sejak masih berusia belasan tahun. “Dulu saya buat secara sederhana menggunakan peralatan di bengkel bubut milik tetangga,” ujarnya. Hasil tutup botol buatannya pun awalnya dipasarkan untuk tetangga di sekitar rumahnya yang memproduksi minuman tradisional dalam skala rumah tangga.

Komaruddin bilang, di luar negeri, tutup botol dipasarkan di swalayan. Sebut saja, negara-negara di Eropa. Karena kesadaran akan kesehatan penduduknya sudah sangat tinggi, mereka kerap membuat minuman seperti sirup, wine, serta minuman kesehatan lainnya secara mandiri. Alhasil, kebutuhan akan tutup botol tak hanya datang dari produsen, tapi juga dari pengguna langsung.

Sementara, lanjut Komaruddin, situasi di Indonesia tidak seperti itu. “Tapi, saya memperkirakan beberapa tahun ke depan bisa begitu,” katanya. Untuk itu, dalam bisnisnya, Komaruddin menyasar para pelaku usaha kecil dan menengah.

Maklum, kini, di berbagai daerah muncul banyak sekali produk minuman dan makanan yang diproduksi secara kecil-kecilan. Logikanya, mereka pasti butuh tutup botol untuk produk yang dikemas menggunakan botol kaca.

Komaruddin memproduksi satu jenis tutup botol yakni jenis mahkota atau crown cap. Tutup botol ini mirip mahkota yang melekat pada bagian mulut botol. Tutup botol jenis ini  sering digunakan untuk produk kecap, sirup, sari buah, dan minuman ringan yang tidak mengandung soda.

Tutup botol produksi Nakita  Adkom ini terbuat dari aluminium lunak. Cara membuatnya yakni dengan menekan tutup pada bagian mulut botol sehingga tercetak sesuai dengan pola mulut  botol. Ada dua pilihan warna tutup botol, yakni kuning mengkilat dan perak.
Komaruddin menerangkan, tutup botol yang berkualitas tidak boleh bocor alias harus benar-benar menutup botol dengan rapat. Pasalnya, kalau botol bisa menahan gas atau bau, tapi produk yang dikemas dalam botol tetap bisa rusak jika penutupan tidak bagus.

Profit 50%

Menurut Komaruddin, tutup botol harus memenuhi beberapa syarat, seperti mencegah penetrasi senyawa dari dalam ke luar kemasan botol, serta tidak menimbulkan reaksi dengan produk yang dikemas dan tidak lengket dengan produk. “Yang tak kalah penting, tutup botol harus dirancang untuk mudah dibuka, tapi tidak mudah dirusak,” ujar dia.

Tutup botol buatan Nakita Adkom dibuat dari tin plate dengan ukuran diameter 22 mm dan  tebal 0,14 mm–0,26 mm. Komaruddin menetapkan pesanan minimal 30 dus tutup botol. “Tiap dus berisi 1.500 pieces tutup botol,” ucap dia.

Untuk satu buah tutup botol. Komaruddin mematok banderol seharga Rp 64. Jadi, dari tiap transaksi, ia mengantongi sekitar Rp 3 juta.

Komaruddin sudah memasarkan produknya ke beberapa pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Jawa dan Bali. Pesanan tutup botol akan ramai pada hari-hari menjelang liburan Lebaran dan Natal. Pesanan di masa itu bisa naik dua kali lipat daripada jumlah di hari-hari biasa. “Di saat-saat seperti itu, muncul usaha pembuatan makanan dan minuman skala UKM dan itu berpengaruh pada penjualan kami,” tutur dia.

Dalam sehari, kapasitas produksinya rata-rata mencapai 20.000 buah tutup botol.

Dihitung-hitung, pemasukannya dari usaha ini mencapai Rp 40 juta saban bulan. Laba bersihnya cukup menggiurkan, karena bisa mencapai 50% dari omzet. “Ongkos produksi keseluruhan Rp 30 per tutup botol,” ungkap Komaruddin.

Pemain lain dalam bisnis pembuatan tutup botol ialah PT Antar Nusa Sakti Jaya (ANSJ) di Tangerang. Perusahaan ini sudah memproduksi tutup botol sejak tahun 2000.

Setidaknya ada dua jenis tutup botol yang diproduksi ANSJ, yakni crown caps (tutup mahkota) dan piller proof caps yang terbuat dari alumunium. Kebanyakan kliennya merupakan produsen di bidang makanan, minuman dan farmasi.

Friday, 13 March 2015

Hery Frianto Owner PT Simulator Dirgantara Indonesia (SDI)


Industri penerbangan memang tengah diterpa berbagai dilema dua tahun belakangan. Akan tetapi hal itu tidak melunturkan minat orang terhadap dunia aviasi. Banyak orang yang tertarik dengan dunia dirgantara, terlebih pada profesi pilot yang dianggap mentereng dan berpotensi mendatangkan penghasilan tinggi.

Sudah bukan rahasia bahwa  sekolah pilot bukan fasilitas pendidikan berbiaya murah. Untuk belajar hingga mendapat lisensi sebagai pilot, seseorang harus merogoh kocek ratusan juta rupiah. Dus, tidak banyak orang yang mampu menerbangkan pesawat sebagai pilot. Namun, sekarang Anda bisa merasakan sensasi jadi pilot dengan biaya yang jauh lebih murah.

Hery Frianto Owner PT Simulator Dirgantara Indonesia (SDI)
Creative common image by Kontan
Adalah Hery Frianto, seorang pengusaha yang memungkinkan banyak orang mengalami serunya menerbangkan pesawat melalui usahanya PT Simulator Dirgantara Indonesia (SDI). Walaupun hanya berupa simulator, sensasi mengendarai pesawat, mulai lepas landas hingga kembali mendarat sangat terasa.

Hery mengaku sudah tertarik dengan dunia kedirgantaraan sejak lama. Awalnya, dia hanya suka memainkan permainan flight simulator di komputer pribadinya pada 2007. Lama-kelamaan, dia semakin penasaran dengan dunia penerbangan. Hingga ia berniat untuk belajar pada pilot sungguhan dengan menggunakan berbagai software flight simulator yang ia miliki. “Bukannya memberi latihan, saya malah disuruh ikut belajar di sekolah pilot,” ceritanya.

Padahal, Hery tak punya niatan jadi pilot. Sebagai orang yang mengutamakan detail, Hery mengaku tertarik dengan teknologi di dunia penerbangan. Akhirnya, Hery membuat simulator penerbangan sendiri pada tahun 2009.

Hery mengatakan simulator pertama yang ia bikin ialah simulator pesawat Boeing 737 dengan single seater. Untuk pembuatan simulator ini, Hery mengeluarkan biaya hingga Rp 450 juta. “Kebanyakan komponennya saya beli dari luar negeri, baru dipasang di bengkel sendiri,” tuturnya.

Simulator yang diletakkan di rumah pribadi Hery ini ternyata cukup menarik minat beberapa kalangan. Bahkan, sejumlah orang menyewa simulatornya untuk belajar menerbangkan pesawat. “Ada lima orang yang lolos masuk ke sekolah penerbangan, setelah belajar mengendarai pesawat dengan simulator saya waktu itu,” ujar dia.

Lantas, Hery pun melihat ini sebagai peluang usaha yang bagus untuk dikembangkan. Apalagi, saat itu belum ada simulator penerbangan milik pribadi sebagai sarana belajar jadi pilot. Ia pun mendirikan PT Simulator Dirgantara Indonesia pada 2010 di Cipondoh, Tangerang.

Pada awalnya membuka bisnis ini, Hery berniat membuka wawasan masyarakat terhadap dunia aviasi. “Terutama untuk profesi pilot yang tak sekadar menerbangkan pesawat,” kata dia. Itulah sebabnya, dia membidik pasar yang cukup luas. Yakni, mulai dari anak TK hingga orang dewasa yang tertarik masuk sekolah pilot, bahkan pilot senior sekalipun.

Pengusaha lain yang melirik usaha simulator penerbangan ialah Munadi Ismail, pemilik PT Cihampelas Tekno Kreasi di Bandung, Jawa Barat, yang memiliki divisi Bandung Simulator Center. Usaha ini sudah berdiri sejak tahun lalu. Sama seperti SDI, perusahaan ini juga menyasar pasar anak-anak dan orang dewasa yang tertarik untuk jadi pilot.

Bahkan, Bandung Simulator Center bekerja sama dengan pusat perbelanjaan di Surabaya. “Kami mendatangkan simulator pesawat di Kaza Simulator Center di Surabaya dengan sistem bagi hasil dengan mereka, jadi kami menyewakan simulator milik kami,” terang Utomo Harja Saputro, salah satu instruktur di BSC.

Pensiunan pilot ini bilang, BSC punya simulator jenis pesawat Helicopter BELL 206, Cessna 172SP Skyhawk, Boeing 737 NG, dan Piper Warrior 3. Bagi anak-anak yang tertarik mencoba menjalankan simulator pesawat, BSC mematok biaya Rp 60.000 per tiga jam. Itu sudah termasuk menonton tayangan dirgantara dan foto bersama. Sementara, bagi orang dewasa, BSC memungut biaya Rp 300.000–Rp 500.000 per 30 menit menggunakan simulator. “Tiap hari kami adakan diskon dari 20%–50%,” ujarnya.

Di SDI, Hery punya dua divisi. Pertama, Junior Pilot yang ditujukan untuk mengenalkan anak-anak pada dunia penerbangan. Murid TK hingga SMP bisa mengikuti program ini. Anak-anak bisa menerbangkan pesawat melalui PC based simulator. Bagi anak yang cuma tertarik mencoba, Junior Pilot menyediakan kelas experience selama 1,5 jam dengan biaya Rp 100.000.

Junior Pilot juga punya kelas reguler yang terdiri dari empat level, mulai basic flight hingga type rating. Pada tiap level, anak-anak belajar selama tiga bulan untuk belajar ilmu dasar penerbangan, baik teori maupun praktik. Junior Pilot mematok biaya Rp 3,125 juta untuk tiap level di kelas reguler ini.

Ada juga Junior Pilot Holiday. Seperti namanya, program ini hanya berlangsung pada masa liburan sekolah anak. Pesertanya bukan hanya anak-anak yang berdomisili di Jabodetabek. Hery bilang, bahkan anak yang tinggal di Papua pun pernah mengikuti program yang berlangsung selama dua hari ini. Untuk biaya, Junior Pilot menetapkan biaya Rp 2,9 juta per anak.

Sementara itu, Hery juga punya student pilot course bagi orang dewasa yang tertarik mengikuti sekolah penerbangan alias ingin jadi pilot. Program ini ditawarkan dengan berbagai pilihan kelas dengan kisaran biaya Rp 600.000–Rp 4,5 juta. “Waktunya beragam, mulai dari satu jam hingga delapan jam belajar dengan flight training device,” jelas Hery.