Friday, 27 February 2015

Daftar CV Pengadaan UPS Dinas Pendidikan anggaran 2014-2015



Setelah DPRD DKI mengajukan hak angket, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama malah tak gentar. Di tengah bergulirnya hak angket, dia kembali membeberkan anggaran yang tak beres.

Kali ini dana pengadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) untuk sekolah. Anggaran itu sudah digunakan pada 2014.

Creative common image by Merdeka
 Ahok telah mengumpulkan data mengenai dugaan mark up anggaran tersebut. Sehingga membuat orang yang bermain dalam anggaran tidak dapat mengelak dari hukum.

"Kami lagi siapin berkas semua. Cari, kumpulin data, kan tahun 2014 tidak bisa mengelak. Permainan mark up ini tidak bisa mengelak. Kami lagi kumpulin ini data," tegasnya sambil menunjukkan data penggunaan anggaran di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (26/2).

Mantan Anggota DPR RI ini akan mengambil tindakan tegas dengan melaporkan kasus ini kepada penegak hukum. "Iya dong pasti saya lapor untuk kejahatan pasti kami lapor. Kami lagi siapin," ungkapnya.

Ahok tiba-tiba mengeluarkan data pengadaan UPS tahun 2014 untuk sekolah kawasan Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Berikut data yang disampaikan:

Daftar rekapitulasi pengadaan UPS pada Suku Dinas Pendidikan Tinggi Kota Administrasi Jakarta Barat tahun anggaran 2014:


1. PT Vito Mandiri Pengadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) SMK 45 senilai Rp 5.822.608.000

2. Wiyata Agri Satwa Pengadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) SMkN 42 senilai Rp 5.833.448.500

3. PT Dinamika Airufindo PersadaPengadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) SMKN 35 senilai Rp 5.832.750.000

AHOK Vs Perampok Uang Rakyat DPRD DKI



Ahok sudah cukup sabar melihat tingkah pola kelakuan korupsi ditahun sebelumnya, karna tidak bisa mengubahnya kalau bukan berada di posisi sebagai Gubernur, dan di Masa-nya sekarang, ia akan melawan praktek kecurangan yang telah terjadi diseluruh provinsi di Indonesia permainan pencurian uang rakyat melalui Dewan.

Lebih baik seluruh anggota dewan yang terlibat dipenjarakan dan dibiarkan vakuum tanpa ada perwakilan rakyat di DPRD DKI, kalau mau cari dan jumpai perwakilan anda singgah saja di Penjara.

Creative common image by Merdeka
Merdeka - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) buka-bukaan soal adanya mark up di dinas pendidikan. Ahok membeberkan adanya dana siluman setelah DPRD DKI menggunakan hak angket terkait APBD 2015.

Ahok mengaku tak gentar dengan sikap DPRD DKI menggunakan hak angket. Dia punya banyak alasan karena selama ini sering terjadi mark up anggaran dalam sebuah proyek.

Berikut ini wawancara lengkap Ahok menanggapi hak angket DPRD dan adanya mark up anggaran di dinas pendidikan, Kamis (26/2):

Terkait paripurna hak angket tadi gimana?

Aku sih biasa saja rapat seperti biasa

Apakah memantau?

Sekarang kita lihat saja nih (sambil nunjukin berkas). Ini tahun 2014 hampir semua sekolah, kita ada bukti 55 sekolah itu dianggarkan Rp 6 miliar untuk UPS (Uninterruptible Power Supply). Yang menang tender ini bisa begitu banyak. Saya kira ini kita lagi selidikin ini jangan-jangan pemasoknya sama. Satu sekolah pasang UPS sampai Rp 5,8 miliar.

Itu UPS?

Iya. Teman saya yang mainin komputer begitu canggih itu dia pasang semua UPS yang bisa 45 kva. Itu UPS apa sampai Rp 6,5 miliar? Ini sudah terjadi. Makanya dia keenakan untung mau minta lagi sekarang, itu yang saya tolak. Silakan dia mau angket apapun saya kira DPRD masih ada yang baik juga. Beberapa ada yang BBM saya bilang terpaksa tanda tangan seorganisasi. Yang saya pikirkan orang Jakarta. Pasti tidak mungkin ikhlas membiarkan sekolah beli UPS sampai Rp 6 miliar.

Untuk berapa UPS?

1 unit per sekolah ini. Ini yang diajukan. Makanya salah satu alasan gue tolak karena ada UPS untuk kelurahan di Jakarta Barat. Fakta seperti ini. Makanya saya yakin orang Jakarta tidak akan ikhlas uangnya dihabisin. Itu Rp 12,1 triliun bisa buat bangun 60 ribu rusun loh seperti Tambora. Jadi saya tidak ikhlas kalau APBD DKI dipermainkan seperti ini.

Ini kenapa bisa terjadi di 2014 kalian ingat enggak semua SKPD menolak e-budgeting karena enggak bisa masukin harga satuan? Makanya saya sabar nunggu sampai selesai 2014 untuk masukin semua keluarlah angka ini.

Apakah dilobi?

Bukan lobi. Kami semua mesti tanda tangan versi lama dia. Jadi SKPD enggak mau masukin ke e-budgeting, kalau 2015 saya ngotot kalau kamu enggak mau e-budgeting saya pecat. Saya sabar menunggu, 2013 ketemu 2014 masih ada anggaran siluman seperti ini. Nggak mungkin lah sekolah minta UPS, saya kira kepala sekolah enggak segila itu. Ini bisa untuk perbaiki sekolah yang 48 persen itu hancur. Makanya saya lebih rela dipecat dari gubernur daripada Rp 12,1 triliun masuk ke APBD oleh oknum-oknum.

Ini buktinya pencurian seperti ini (sambil nunjukin kertas). Di mana ada UPS, saya tanya teman saya yang paling sering main UPS saya tanya sama dia. Dia jawab saya begini: sebagai gambaran UPS di kantor gua pakai UPS kira kira 40 KVA gua bayar Rp 163 juta ini buat pastiin semua komputer 60 unit tidak hilang data kalau listrik mati. Di kantor gua pakai genset yang mati 3 menit kemudian dinyalakan. Gua lagi bingung kalau ada UPS miliaran buat sekolah, artinya sekolah DKI lebih advance dari kantor gua yang notabene harus memenuhi standar principal di luar negeri. Terus gua pakai genset 135 KVA dengan otomatis swicth, kalau enggak salah gua bayar USD 50 ribu, kapasitanya bisa nyalain AC central 5 lantai plus lift.

Ini fakta, jadi saya kira orang Jakarta masih banyak tidak rela uangnya dipakai buat beli UPS sekolah dan ini tidak ada yang tahu lho. Kami juga kecolongan. Karena tidak ada e-budgeting. Ini sudah terjadi. Makannya keenakan untung di sini main lagi sekarang.

Apakah 2015 enggak diusulkan?

Nggak diusulin. Saya sudah panggil lurah, ada videonya, enggak ada yang ngusulin. Lurah saja kaget. Satu kantor lurah dibeliin UPS Rp 2,4 miliar. Tapi sekolah masih sama Rp 6 miliar.

Lalu pada anggaran 2014 kecolongan berapa?

Yang pasti untuk UPS ada Rp 330 miliar. Hanya sekolah. Makanya dia tender dia pinter menang 5, sekian miliar. Lebih murah dari Rp 6 miliar.

Saya kira PT ini untuk sekadar ikut. Saya rasa bisa masukan satu suplaier.

PT itu bisa di-trace?

Makannya ini mau di-trace (telusuri). Kita akan siapkan juga pengaduan, korupsi juga harga begitu mahal, mark up ini. Nanti kita siapkan berkas, saya berharap ada pihak berwajib ditindak. Nggak ada UPS begitu mahal, UPS apa?



Caranya bagaimana?

Saturday, 21 February 2015

Wawancara Rusdi Kirana CEO Lion Air Group


Siapakah Rusdi Kirana? Namanya sering disebut, tetapi sosoknya tak banyak dikenal, apalagi setenar Lion Air. Sepanjang kehadirannya, maskapai penerbangan nasional yang terbang perdana pada 30 Juni 2000 ini menorehkan banyak hal yang mencengangkan.

Dengan motonya, "We Make People Fly", Lion Air berhasil menerbangkan sekitar 36 juta penumpang pada 2013. Pangsa pasarnya mendekati 45 persen untuk penumpang domestik. Sementara itu, pada 2012, pangsa pasarnya 41,22 persen.

Banyak cerita menarik mengenai maskapai yang didirikannya bersama sang kakak, Kusnan Kirana.

"Lion itu tiap hari diomelin. Benar diomelin Pak Chappy (Chappy Hakim, pengamat penerbangan, Red), salah apalagi. Tiap hari!" kata Rusdi.

Dalam Task Force Aerospace Diaspora, Agustus lalu, ia pun mengatakan, "Di luar negeri, saya punya leverage, tetapi di dalam negeri saya sering dimarahi wartawan."


Rusdi memiliki leverage sejak ia menorehkan sejarah dalam industri dan bisnis penerbangan dunia. Catat saja pesanan 230 pesawat dari pabrikan Boeing senilai 21,7 miliar dollar AS atau Rp 195,2 triliun, yang disaksikan Presiden AS Barack Obama, pada 18 November 2011 di sela-sela KTT Asia Timur di Bali.

Kesepakatan ini menciptakan lebih dari 100.000 lapangan kerja di Amerika Serikat untuk jangka waktu panjang. Sampai saat ini, Lion Air bahkan sudah memesan 408 pesawat dari Boeing.

Dunia penerbangan pun kembali dibuat tercengang dengan pemesanan 234 pesawat dari pabrikan Airbus senilai 18,4 miliar euro atau setara Rp 230 triliun. Penandatanganan kesepakatannya berlangsung di Istana Kepresidenan Champs Elysees, Paris, yang disaksikan Presiden Perancis Francois Hollande pada 18 Maret 2013.

Hollande berterima kasih karena pemesanan itu mampu mengamankan 5.000 pekerja selama 10 tahun ke depan dan membantu perekonomian Perancis yang tengah dilanda krisis.

Belum lagi pesanan 60 pesawat jenis ATR 72 dari Perancis, beberapa pesawat Hawker 900, dan saat ini sedang menjajaki untuk pemesanan pesawat C-series dari Bombardier, Kanada.

Industri penerbangan nasional, PT Dirgantara Indonesia (DI), juga tak ketinggalan menjadi incarannya. Produk baru pesawat N- 219, yang masih dalam tahap preliminary design, disebut-sebut akan dipesannya sebanyak 100 unit.

"Kita harus punya 1.000 pesawat dan sekarang sudah pesan sekitar 700 pesawat. Sudah datang 120-130 pesawat," ungkap Rusdi.

Pada suatu sore awal Oktober 2013 di Kemang, Jakarta, Reni Rohmawati dari Majalah Angkasa, berbincang dengan pendiri dan CEO Lion Air Rusdi Kirana. Perbincangan sore itu sempat diselingi pertemuan dengan pemilik Kem Chicks, almarhum Bob Sadino. Sambil minum kopi dan makan pisang goreng, pertemuan itu terasa menyegarkan.

Obrolan Rusdi dan Bob antara serius dan bercanda, ditingkahi tawa berderai keduanya. "Pak Bob boleh jadi bintang iklan Lion Air: low cost, tapi high profile. Itu Lion Air," ucap Rusdi.

"Tapi, saya tak pernah naik Lion Air. Orang lebih kenal Kem Chicks daripada Lion Air," jawab Bob, seraya menegaskan bahwa sejujurnya ia tak pernah terbang dengan Lion Air karena tak ada kelas bisnis.

"Aku bukan tak tahu. Lion di mana-mana ada, tapi tak kelihatan sama aku. Ini bukan maksud menghina. Artinya, ada dua: aku ingin tahu Lion Air seperti apa atau Lion memang bukan kelas gua!"

Beberapa saat kemudian, Bob menanyakan keseriusan Rusdi atas tawarannya itu. "I will. Pak Bob pantas untuk jadi bintang iklan Lion Air; penampilan sederhana, duitnya banyak. Kalau ada yang ngomelin, nanti bantuin sama Pak Bob omelin," ujar Rusdi.

Founder Spotdokter Indonesia : Mendy Candella, Pascal Christian dan Jaka Pradipta


Ingin mencari informasi kesehatan dan jadwal praktik dokter? Gampang, unduh saja aplikasi SpotDokter lewat ponsel Anda – berbasis iOS, BlackBerry ataupun Android. Maka berbagai informasi seputar jadwal praktik dokter, direktori alamat rumah sakit (RS), klinik, laboratorium, apotek, dsb., bisa Anda peroleh.

Aplikasi ini dikembangkan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, yakni Mendy Candella, Pascal Christian dan Jaka Pradipta. “Ide membuat aplikasi mobile seputar informasi kesehatan muncul ketika saya sedang menjalani masa praktik ilmu kesehatan masyarakat di sebuah puskesmas di Bandung pertengahan tahun lalu,” ujar Mendy. “Selama tugas di sana saya melihat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan informasi kesehatan.”

Founder Spotdokter Indonesia : Mendy Candella, Pascal Christian dan Jaka Pradipta
Creative common image by Swa

Untuk merealisasi idenya tersebut, Mendy mengajak teman kuliahnya, Pascal, yang mengerti bahasa pemrograman dan Jaka untuk membantu memasarkan aplikasinya itu. Setelah menggodok business plan, pada September 2011 mereka pun mengajukannya ke sebuah inkubator start-up, yakni Project Eden – yang saat itu memang sedang mengadakan lomba pencarian start-up pilihan. Aplikasi SpotDokter yang mereka ajukan terpilih sebagai pemenang.

Anantya van Bronckhorst dan Ramya Prajna Sahisnu Founder Think.Web


Pada Agustus lalu Acer Indonesia mendapat penghargaan The Most Devoted Brand dari perusahaan analisis digital dan media sosial global, Socialbakers. Nah, keberhasilan Acer itu ternyata tidak lepas dari hasil pekerjaan Think.Web (www.think.web.id) – perusahaan agensi digital yang dibesut dua anak muda: Anantya van Bronckhorst dan Ramya Prajna Sahisnu.

Selain Acer, ada sejumlah merek lain yang memercayakan layanan komunikasi digitalnya kepada Think.Web. Di antaranya: Clear, Aqua, Maybelline, Clear&Clean, Bank Danamon, Hewlett-Packard, Taksi Express, CIMB Niaga, LippoBank, A Mild, Bayer, Rinso, dan banyak lagi.

Anantya van Bronckhorst dan Ramya Prajna Sahisnu Founder Think.Web
Creative common image by swa

Saat ini, Think.Web merupakan salah satu agensi digital cukup ternama di Tanah Air – selain Semut Api Colony yang tergabung dalam Grup Jarum. Pada 2011, Think.Web mengklaim mampu membukukan pendapatan lebih dari US$ 1 juta. “Think.Web bukan sekadar mengembangkanweb, tapi memberikan solusi komunikasi dan pemasaran digital bagi perusahaan,” ujar Anantya, co-founderdanco-CEOThink.Web.

Think.Web dibentuk pada 2006. Awalnya, Anantya dan Ramya sama-sama bekerja di DBB Vertigo – perusahaan agensi periklanan dan rumah produksi. “Ketika itu, kami diberi target bisa menghasilkan Rp 400 juta dalam setahun. Ternyata bisa,” ujar wanita kelahiran 23 November 1979, yang akrab disapa Anan ini dengan bangga.

Seiring pesatnya perkembangan Internet, mereka pun diberi kewenangan mengembangkan divisi Web. Sayangnya, divisi itu kurang mendapat perhatian penuh dari pemilik perusahaan, karena lebih fokus ke unit event dan acara televisi. “Kami pikir, bisnis ini tidak akan berkembang jika hanya di bawah suatu divisi. Kalau pun berkembang, tidak akan sepesat yang diharapkan jika kurang diperhatikan,” ujar alumni Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia ini.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengembangkan bisnis agensi digital sendiri dengan nama Think.Web. Namun persoalannya, mereka tidak punya dana untuk merealisasi ide tersebut. Lalu, mereka menawarkan proposal bisnisnya ke salah seorang pemilik Vertigo. Ternyata, mantan bosnya mau mendanai, dengan kesepakatan ia akan menjadi salah satu pemilik Think.Web. 

Riyeke Ustadiyanto, Chief Technology Officer iPayMu


Sebuah online payment gateway yang menawarkan solusi pembayaran secara online, iPayMu, kini telah berkembang pesat. Buktinya, jumlah merchant aktif ada sekitar 5.800. Perusahaan ini pun berhasil menggandeng 137 bank.

Sekarang,  iPayMu memiliki alat  yang terintegrasi ke e-commerce sebagai alat pembayaran secara online dengan e-wallet, kartu kredit, hingga penarikan dan pengiriman uang. iPayMu juga telah terkoneksi dengan jaringan PT Pos Indonesia yang memiliki lebih dari 4.000 cabang di seluruh Indonesia.

Riyeke Ustadiyanto, Chief Technology Officer iPayMu
Creative common image by Swa

iPayMu pun mempunyai sistem layanan escrow atau rekening bersama. Ini adalah layanan penjaminan dari iPayMu. Layanan ini untuk menghindari keraguan serta risiko penipuan atau transaksi palsu. Dengan begitu, layanan escrow memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pihak penjual maupun pembeli. Pada saat barang telah diterima oleh pelanggan, barulah pelanggan melakukan pembayaran senilai barang yang dibeli.

Beberapa waktu lalu, di Jakarta, wartawan SWA, Ester Meryana, mewawancarai Riyeke Ustadiyanto, Chief Technology Officer iPayMu. Berikut petikannya:

Ide awal pembuatan iPayMu seperti apa?

Awalnya, saya menulis buku tentang security online payment. Itu tahun 2002. Dan baru terlaksana tahun 2010 sampai sekarang. Dari dulu pekerjaan saya seputar e-commerce. Nggak kemana-mana. Kami melakukan soft launch-nya sudah di Bali kemarin, khusus credit card. Untuk grand launching-nya mungkin akhir tahun ini di Jakarta.  Kenapa di Bali? Ya karena pertama, bisnis e-commerce established di pariwisata, baru kami . Terus baru kita ke e-payment-nya.

Radya Labs Indonesia - Pengembang Aplikasi Windows Phone Indonesia


Mempunyai ketertarikan yang sama dengan teknologi Microsoft, enam alumni Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung sepakat mendirikan Radya Lab, perusahaan start-up pengembang aplikasi berbasis teknologi .NET (baca: dotNet) milik Microsoft. Mereka, dengan peran masing-masing, adalah Tito Daniswara (CEO), Puja Pramudya (CTO), Nadhira Ayuningtyas (CMO), Fakhri Afiff (Head of Product Development), Hari Bagus (Head of Infrastructure) dan Andru Putra (Head of App Development).

Radya Labs Indonesia - Pengembang Aplikasi Windows Phone Indonesia
Creative common image by swa

“Ketika kuliah, kami memiliki ketertarikan yang sama dalam meng-oprek teknologi .Net milik Microsoft ini,” ungkap Tito. “Pada saat platform Windows Phone muncul, belum ada developer di Indonesia yang mengembangkannya. Kami pikir ini kesempatan untuk terjun ke pengembangan aplikasi Windows Phone,” tambahnya.

Bagaimana bentuk kerja samanya dengan pihak Microsoft? Menurut Tito, pihak Radya Labs dituntut produktif mengembangkan aplikasi dan komunitas pengguna Windows Phone. Adapun Microsoft Indonesia selaku pengembang Windows Phone memberi kesempatan kepada Radya Labs untuk terhubung serta dapat mengembangkan bisnis dan kemampuan teknis. Keduanya juga bekerja sama mencari klien, memberikan pelatihan, dan membantu mengembangkan komunitas pengguna Windows Phone.

PT Nightspade Multi Kreasi - Creator Games Indonesia


Siapa bilang industri game tak bisa diandalkan? Siapa bilang game adalah lahan kering, tak bisa menghasilkan banyak uang? Melalui Stack The Stuff, Nightspade membuktikan paradigma tersebut salah besar. Kurang dari sepekan, game yang dirintis 19 pengembang Bandung ini diunduh oleh lebih 2000 pengguna Windows Store Amerika Serikat yang rela merogoh kocek US$ 1,49 untuk sekali unduh.

PT Nightspade Multi Kreasi - Creator Games Indonesia
Creative common image by Swa

Sebagai permainan yang menyasar perangkat layar sentuh, Stack The Stuff merupakan permainan yang sangat sederhana. Pengguna hanya perlu menumpuk beberapa alat tulis hingga menyentuh bintang demi meraup score dan bonus. Namun pengguna juga harus penuh perhitungan saat hendak meletakkan, harus memikirkan keseimbangan alat tulis tersebut. Tantangan dalam permainan sederhana ini kerap disebut-sebut sebagai permainan hukum gravitasi yang bikin ketagihan. Di sinilah kemudian PT Nightspade Multi Kreasi memainkan bisnisnya.

Michael Saputra, Andrew Pangestan Founder Klik-Eat Indonesia


Sebagai start-up, pertumbuhan klik-eat.com tidak bisa disepelekan. Saat SWA Online menyaksikan aksi pitching mereka di hadapan Blackberry dan e27 pertengahan April 2012 lalu, klik-eat.com baru merangkul tak lebih dari 30 merchant. Sukses memenangkan hati angel-investor di Singapura, klik-eat.com mengalahkan start-up lain dari negara-negara Asia Tenggara yang tak kalah memikat. Tidak sampai situ saja, online food order terbesar Jepang, Yumenomachi, tak mau ketinggalan berinvestasi.

Michael Saputra, Andrew Pangestan Founder Klik-Eat  Indonesia
Creative common image by Swa

Kini 120 brand merchant dengan lebih dari 200 outlet di Jakarta Selatan berhasil ditaklukkan. Bukan itu saja, dalam satu bulan sekamir 5 sampai 10 brand restoran baru giat mengontak Andrew Pangestan, sang CMO. Armadaklik-eat.com pun terus ditambah untuk mengakomodasi pemesanan dan konsumen yang terus meningkat.

Dirintis Juni 2011 saat ia hanya menerima 3 order per hari, klik-eat.com sekarang panen order lebih dari 100 pesanan tiap hari untuk daerah Jakarta Selatan, Lebak Bulus, Pondok Indah, Depok, hingga Bundaran HI. Tak heran bila CEO klik-eat.com, Michael Saputra terus menambah tim karyawannya hingga 20 orang. Mereka berkantor di sebuah rumah seluas 300 meter persegi di bilangan Kebayoran Baru. Willy Haryanto, CTO klik-eat.com menjadi start-up yang bertahan dan dilirik banyak investor ternyata tidak mudah. Banyak detail yang harus diperhatikan dan disampaikan dengan cantik demi menarik hati investor dan audien. SWA Online mewawancarai Michael untuk menguak rahasia klik-eat.com menggaet investor, Senin (18/2).

Sejauh ini berapa investor yang sudah bertemu dengan klik-eat.com?

Kami bertemu investor sudah cukup banyak. Kurang begitu ingat persisnya berapa investor, tetapi berkisar di angka 12. Ketemu investor paling banyak itu waktu kami pitching di Singapura, acaranya Echelon, karena itu memang event yang cukup besar. Di Start Up Asia juga lumayan banyak. Di luar itu kami juga dikenalkan start-up lain, seperti Sribu.com. Ryan mengenalkan saya dengan venture capitalist (VC) juga.

Siapa saja investor yang sudah investasi ke klik-eat.com?

Untuk get the business up and running di awal, kami dibantu oleh investment teman2 kami sendiri yang bisa juga disebut sebagai angel investors. Secara umum, angel investor menginvestasi uang mereka sendiri, dengan jumlah yang tidak terlalu besar. Selanjutnya masuk Yumenomachi dari Jepang, yang mempunyai service bernama Demaecan (online food ordering terbesar di Jepang). Karena Yumenomachi bukan VC (Venture Capital) jadi sebenarnya mereka tidak mempunya standard besar investasi. Tetapi biasanya di angka ratusan ribu USD.

Apa yang jadi fokus mereka saat pitching?

Beda investor biasanya beda titik fokus yang mereka utamakan. Ada investor yang benar-benar fokus di business model dan market size. Ada juga investor yang mengutamakan berapa kuat tim foundersnya. Selain itu ada investor yang mengutamakan track record, alias berapa jumlah user, berapa jumlah order, berapa peningkatannya per bulan dan sebagainya. Karena kami sering tidak bisa menebak apa yang dicari investor, secara general menurut saya sebagai start-up harus bisa meng-cover seluruh dasar-dasar yang diperlukan sebelum bertemu investor. 

Contohnya, punya pitch deck (presentasi) yang solid, bisa memperkenalkan diri dan tim dengan meyakinkan, dan bisa menjelaskan ke investor kenapa kami orang yang paling tepat untuk menjalankan bisnis ini. Start-up juga harus punya business plan yang solid, agresif tapi masuk akal dan meyakinkan, harus punya rencana dan bisa menjelaskan mau diapakan uang investasi yang akan diterima, kemudian tahu siapa kompetitor di bisnis ini dan apa rencana untuk mengalahkan mereka.

Aldwin Prasetyo Leksono Founder talangrumah.com


Menggeluti bisnis yang belum diterjuni banyak orang tentu menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi, peluangnya masih besar. Namun di sisi lain, perlu usaha kuat agar mendapat tempat di tengah pasar. Hal inilah yang dijalani Aldwin Prasetyo Leksono, perintis bisnis talangrumah.com.

Aldwin Prasetyo Leksono Founder talangrumah.com
Creative common image by Swa

Aldwin bertutur, mulanya ia bertemu dengan ahli pembuat talang rumah yang kebetulan temannya. Dari temannya itu, ia melihat peluang cukup besar untuk mengembangkannya karena tidak banyak yang terjun menggarapnya. Sepulang dari kuliah di Australia, ia pun mengajak sang teman bekerja sama. “Ketika itu mindset saya ya masih online, kebetulan Internet juga sedang berkembang,” ujar lulusan bidang \Internet computing dari salah satu univeritas di Perth, Australia, ini. Aldwin pun memutuskan memasarkan produk secara online.

Pilihan Aldwin sebagai pemula itu ternyata tepat. Dengan melalui online, tidak perlu banyak orang dan biaya. Cukup dengan menyediakan workshop pembuatan talang rumah di daerah Karawang, usaha itu bisa dimulai.

Team Founder Alegrium Indonesia


Anak muda memang penuh dengan kejutan. Demikian pula empat anak muda pendiri Alegrium, perusahaan pengembang game. Tanpa diduga-duga, Icon Pop Quiz, game tebak gambar bertema pop besutan mereka, sukses menjadi game yang paling banyak diunduh di Apple Store, pusat aplikasi perangkat mobile buatan Apple seperti iPhone, iPad dan iPod. Icon Pop Quiz pun berhasil merajai Google Play Store alias sentra aplikasi game berbasis sistem operasional Android.

Sejak dirilis pada 15 November 2012 di jagat Apple Store, jumlah pengunduh Icon Pop Quiz hingga kini mencapai 11 juta lebih. Adapun di Google Play Store mencapai 2 juta unduhan. Hebatnya lagi, kebanyakan pengunduhnya justru dari negara yang berbahasa Inggris seperti Inggris, Australia dan Kanada. Artinya, mereka suskes merebut hati gamer global.

Team Founder Alegrium Indonesia
Creative common image by Swa

Alegrium dibesut pada 2011 oleh empat anak muda: Yan Gunawan (29 tahun), Stefan Damasena (28 tahun), Raygen (31 tahun) dan Indra Budiman (30 tahun). Mereka adalah mantan karyawan agensi digital yang sudah jenuh meladeni tuntutan klien. Akhirnya, setelah mengumpulkan cukup nyali, mereka sepakat membesut Alegrium dan langsung membuat game atas inisiatif sendiri. “Inginnya kami yang bekerja happy, dan produk yang kami keluarkan juga membuat orang lain happy,” tutur Stefan.

Daniel Cassidy Founder Lebah Biru Komunika


Pernah lihat program loyalitas Telkomsel di Facebook, yaitu Telkomsel School Community (TSC)? Info buat yang belum tahu, TSC merupakan komunitas sekolah yang kini telah memiliki belasan juta anggota dari sekitar 9.500 sekolah di seluruh Indonesia. Melihat jumlah keanggotaannya, wajarlah Telkomsel mengklaim program ini berhasil.

Creative Common Image by Swa

Nah, keberhasilan Telkomsel memopulerkan TSC tidak lepas dari andil agensi media digital bernama Lebah Biru. “Sebenarnya di proyek TSC ini, Lebah Biru hanya sebagai pihak ketiga. Waktu itu, agensi yang ditunjuk Telkomsel melimpahkan pembuatan aplikasi TSC kepada kami,” ungkap Daniel Cassidy, pendiri sekaligus Direktur Pengelola PT Lebah Biru Komunika (LBK).

Aplikasi TSC hanya salah satu karya LBK. Meskipun usianya baru seumur jagung, LBK sudah dipercaya sejumlah perusahaan besar untuk mengomunikasikan mereknya lewat jejaring media sosial.

Diajeng Lestari Founder HijUp.com Indonesia


Perjalanan hidup Diajeng Lestari, atau akrab disapa Ajeng berubah sejak ia membangun HijUp.com. Bermanuver dari pekerja kantoran yang berada di zona nyaman, gaji cukup, kerja 8 jam, berubah menjadi tidak digaji (tapi menggaji), penuh tantangan setiap hari, dan tidak ada jam kerja resmi. Saat memulai, rasa antusias, bahagia, takut, ragu, campur aduk menjadi satu dalam benak perempuan kelahiran Bekasi, 17 Januari 1986 ini. Antusias dan bahagia karena HijUp.com adalah passion yang sejak lama ia inginkan. Ragu dan takut karena dirinya sama sekali belum pernah mengerjakan bidang ini. Putri pasangan H. Heru Soekotjo dan Endang Nurul Kusumawardhani ini mengakui bahwa modalnya kala itu juga belum banyak, karyawan pun belum ada. Namun dengan mengucap Bismillah…,dirinya memantapkan hati.

Diajeng Lestari Founder HijUp.com Indonesia
Creative Common Image by Swa

Awalnya, Ajeng hanya merekrut dua orang, admin komputer dan admin gudang. Admin komputer hanya masuk satu hari. Pada hari pertama HijUp beroperasi, ia memutuskan resign! “Entah mengapa. Aku shock dan panik. Bisa dibayangkan, hari pertama beroperasi, tapi adminnya tidak ada. Aku menangis hari itu, tapi aku berusaha menguatkan diri, dan mengerjakan urusan administrasi sendiri. Hampir semua hal aku lakukan sendiri, mulai dari membeli gantungan baju, menjadi stylist saat pemotretan, mengordinasikan pemotretan, sampai dealing dengan tenant. Kasarnya, aku menjadi direktur merangkap office boy (OB), “ ujar Ajeng mengenang.

Untuk pengerjaan website, Ajeng dibantu oleh tim IT dari perusahaan suaminya. Bagi istri dari pendiri Bukalapak.com, Achmad Zaky Syaifudin ini, masa-masa memulai bisnis merupakan momen penuh risiko, karena belum terlihat seperti apa jadinya bentuknya bisnis ini. Untuk itulah, Ajeng amat berhemat saat itu. Ruang kantor pun dibuat hanya berukuran 3 x 3 meter persegi.

William Salim - Pengusaha Pertanian Indonesia ( Cabe Merah & Bawang Merah)


Usia William Salim masih sangat belia, 22 tahun. Ia menempuh pendidikan Manajemen Bisnis di Macquarie University, Sydney, Australia, dan lulus pada Desember 2012. Seusai menamatkan pendidikan, ia pulang ke kampung halamannya di Pemalang, kota kecil di Jawa Tengah.

William Salim - Pengusaha Pertanian Indonesia ( Cabe Merah & Bawang Merah)
Creative Common Image by Swa
Sebagai anak muda lulusan luar negeri, William memilih berbisnis sendiri. Yang agak aneh adalah pilihan bidang usahanya, yakni menjadi petani bawang merah dan cabe. Padahal, anak muda lulusan luar negeri pada umumnya memilih bisnis bidang teknologi informasi, gaya hidup – seperti busana, sepatu, atau bisnis kuliner – William justru nekat menceburkan diri ke bisnis pertanian.

Ketika memutuskan terjun ke bidang pertanian, semula ayahnya, Freddy Salim, menentang keinginan sulung dari empat bersaudara ini. Alasannya, gengsi. “Sudah jauh-jauh sekolah ke luar negeri, masa iya mau menjadi petani lagi,” kata Freddy ketika itu. Freddy adalah petani cabe dan bawang merah yang sudah menggeluti profesinya selama 30 tahun. Ia tahu persis, bidang pertanian kurang prospektif karena susah diprediksi. Kendala utamanya adalah faktor cuaca yang susah ditebak. Jika cuaca sedang buruk, hasil panen bisa hancur, atau menghadapi fluktuasi harga yang tajam.

Jika harga sedang bagus, cabe dan bawang merah harganya bisa melambung hingga mendekati Rp 100 ribu per kg. Namun, jika panen berlimpah, harganya bisa anjlok menjadi cuma Rp 2.000/kg. “Tahun 2011-2012, harga bawang pernah berkisar Rp 1.800-4.000 per kg,” kata William.

Meski ayahnya kurang berkenan, William bersikeras untuk terjun ke pertanian. Ia bahkan sempat “mengancam” akan meminjam dana ke pihak lain jika ayahnya tidak mau memodali. Melihat kegigihan anaknya, Freddy pun luluh. Ia memberikan dana pinjaman buat modal usaha anaknya. Selain dana pinjaman dari ayahnya, William juga menggunakan uang tabungannya buat menambah modal usaha. Maklum, selama kuliah di Australia, ia juga sempat bekerja di berbagai perusahaan, seperti di resto McDonald’s dan Hotel Hilton, Sydney.

dr. Adhiatma Gunawan Founder Meetdoctor Indonesia


Anda punya keluhan mengenai kesehatan? Jangan panik dan buru-buru ke dokter. Konsultasikan dulu masalah Anda pada tim dokter secara gratis. Caranya, cukup buka website Meetdoctor (www.meetdoctor.com). Di website ini Anda dapat bertanya – dan mencari artikel – mengenai berbagai masalah kesehatan. Paling lambat dalam satu jam, pertanyaan Anda akan dijawab oleh dokter yang berkompeten.

Creative common image by Swa
Ide kreatif pengembangan situs yang menjadi platform kesehatan ini digagas oleh dr. Adhiatma Gunawan. “Awalnya sih karena kekecewaan saya tidak bisa menjadi dokter spesialis,” kata Adhi (nama panggilannya) seraya tersenyum. Pada 2009, ketika masih di Surabaya, ia membuat portal ibu dan anak, Mommeworld, yang masih eksis sampai sekarang. Setahun kemudian, Adhi pindah ke Jakarta, dan pada 2011 muncul ide mengembangkan Meetdoctor. “Ada hikmahnya sih. Mungkin, kalau saya jadi dokter spesialis kandungan dalam sehari bisa menolong 50-70 pasien, sekarang lewat Meetdoctor saya bisa menolong 15 ribu orang yang berkunjung dan berkonsultasi setiap harinya,” katanya seolah ingin menghibur diri.

Menurut Adhi, proses pengembangan Meetdoctor ini hanya butuh waktu 6 bulan (Maret-Oktober 2011) hingga diluncurkan dalam versi beta. Pada awalnya, ketika orang bertanya, butuh waktu 6-8 jam untuk tibanya tanggapan dari dokter. Maklum, para dokter sibuk dengan pekerjaannya. “Wah, pengunjung ngomel-ngomel karena responsnya lambat sekali. Lalu kami pikirkan solusinya,” ungkapnya.

Solusinya, selain menuntut komitmen dari para dokter, Adhi pun menentukan waktu konsultasi, yakni Senin-Minggu pukul 09.00-21.00 WIB. Untuk rentang waktu itu dibagi menjadi dua shift. Tiap shift (6 jam) ada dua-tiga dokter yang jaga untuk menjawab pertanyaan yang masuk. Lalu, untuk memudahkan interaksi, pihak pengelola Meetdoctor membuatkan sebuah program atau aplikasi yang langsung terhubung dengan ponsel para dokter anggota Meetdoctor. Jadi di mana pun berada, mereka bisa dengan mudah menjawab pertanyaan yang masuk. “Sekarang dalam satu jam sudah pasti dijawab, karena menerapkan sistem seperti dokter jaga di rumah sakit,” Adhi mengklaim dengan bangga.

Adhi menyebutkan, investasi yang dibenamkan pihaknya untuk mengembangkan Meetdoctor ini sekitar US$ 1.000. Dana tersebut, selain digunakan untuk pengembangan teknis, juga untuk membayar gaji lebih dari 150 dokter yang tergabung dalam Meetdoctor. Sementara pendapatan Meetdoctor, sejauh ini masih mengandalkan pemasukan dari iklan. “Nanti, selain dari iklan, pendapatan juga dapat diperoleh dari penjualan data,” ungkap Adhi.

Diklaimnya, saat ini Meetdoctor telah memiliki sekitar 19 ribu data kesehatan yang bisa diolah. Data kesehatan tersebut nantinya bisa digunakan untuk kepentingan para stakeholder, seperti rumah sakit, pemerintah, perusahaan farmasi, dsb. Data tersebut diperoleh, antara lain, dari pertanyaan yang muncul. Tentunya, dengan tetap menjaga kerahasiaan pasien.

Selama ini, Meetdoctor telah melayani lebih dari 12 ribu pertanyaan. Dengan jumlah pengunjung mencapai 15 ribu orang per hari, jumlah pertanyaan yang diajukan mencapai 80-100 per hari. Selain itu, Meetdoctor juga telah menjalin kerja sama dengan 7 rumah sakit, yaitu: RS Pondok Indah, RS Bunda, Brawijaya Hospital, Santosa Hospital Bandung, RS Husada Utama di Surabaya, RS Puri Indah, dan RS Akira.

Friday, 20 February 2015

Coklat Ndalem Jogjakarta : Meika Hazim dan Wednes Aria Yudha


Bisnis cokelat sudah menjamur di mana-mana, mulai dari yang skala rumahan sampai korporasi besar. Maklum, Indonesia produsen kakao terbesar ketiga di dunia. Selain itu, penikmat cokelat di negeri ini sangatlah banyak, dari anak-anak sampai orang dewasa. Itu sebabnya, pemain cokelat kini bejibun.
Coklat Ndalem Jogjakarta : Meika Hazim dan Wednes Aria Yudha
Creative common image by Swa

Salah satunya adalah pasangan suami-istri Meika Hazim dan Wednes Aria Yudha. Pada 1 Maret 2013 mereka membesut bisnis cokelat dengan mengusung merek Cokelat nDalem.
Seperti yang lain, sejak awal Coklat nDalem memang diposisikan sebagai oleh-oleh khas dari Kota Yogyakarta. Dibandingkan dengan produk cokelat yang ada di pasaran, Cokelat nDalem memiliki keunikan. Bukan hanya dari segi rasa, tetapi setiap kemasannya pun didesain secara apik serta memiliki cerita tentang budaya yang tumbuh dan berkembang di Yogya, Jawa dan Indonesia.

Menurut Meika, cokelat tak sekadar bisnis. Namun, ada idealisme yang tertaman di dalamnya. Lewat cokelat, ia ingin mewujudkan kecintaannya pada negeri Indonesia. Ia berusaha mempersembahkan cokelat yang mengangkat keunikan citarasa Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Keindonesiaan Cokelat nDalem ia wujudkan pada rasa cokelat yang sengaja dipilih yang mempunyai benang merah dengan budaya Indonesia, dengan kemasan yang didekorasi dengan cerita khas Indonesia.

Untuk melengkapi ilustrasi cerita tentang Indonesia, pada bagian belakang kemasan cokelatnya selalu dijelaskan tentang arti setiap ilustrasi yang ditulis ke dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. “Kami berharap agar cerita tentang budaya Indonesia ini makin banyak yang bisa menerimanya,” ujar Meika.

Nilai pembeda inilah yang menarik minat para pelancong yang datang ke Kota Gudeg untuk mencicipi lezatnya Cokelat nDalem. Gerai Cokelat nDalem di Yogya saat ini sudah ada di jalan Kauman, Seturan, dan juga bisa didapatkan di belasan toko cenderamata di kota ini. Di luar Yogya, ada di KemChick’s Pasific Place, Jakarta.

Sekarang Cokelat nDalem mempunyai 18 rasa yang dibagi dalam lima lini rasa. Setiap lini rasa minimal memiliki tiga varian rasa. Kelima lini rasa tersebut: (1) Klasik (Dark, Extra Dark, Less Sugar Dark Chocolate) yang menggunakan kemasan motif batik pernikahan ala Yogya; (2) Pedas (Cabai, Jahe dan Mint) dengan kemasan dekorasi wayang kartun Bima, Wisanggeni dan Gathotkaca yang punya kesamaan karakter “pedas” di telinga jika berbicara.; (3) Rempahnesia (Cengkeh, Sereh dan Kayumanis) dengan dekorasi kemasan bergambar Bregada (prajurit) Keraton Yogyakarta; (4) Wedangan (Wedang Ronde, Wedang Uwuh dan Wedang Bajigur) yang berdekorasi landmark terkenal di Yogya di mana wedang-wedang tersebut bisa diperoleh. antara lain Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan dan Imogiri; (5) Kopinesia, yaitu perpaduan cokelat dengan isian biji kopi Arabica yang diambil dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia seperti Gayo Aceh, Merapi Jogja, Kintamani Bali, Bajawa Flores, Kalosi Toraja dan Wamena Papua. Lini rasa Kopinesia didekorasi dengan ilustrasi tarian daerah dari mana kopi tersebut berasal.

Flower Advisor Indonesia : Willy W. Thomas dan Aldwin Wijaya


Dua teman semasa kuliah di Australia, Willy W. Thomas dan Aldwin Wijaya, sukses besar membangun toko bunga online. Bernaung di bawah nama Flower Advisor (FA), bisnis mereka kini beromset di atas Rp 10 miliar per tahun, dan mampu mengirim pesanan bunga ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia.

Flower Advisor Indonesia  Willy W. Thomas dan Aldwin Wijaya
Creative common image by Swa

Pendiri awal FA sejatinya seorang warga Singapura yang mengajak Willy turut berbisnis toko bunga pada 2008. Tak sembarang toko bunga, melainkan sudah berbasis teknologi web alias online. Ide dasarnya: orang lintas negara dan benua bisa berkirim bunga ke negara mana pun dengan mudah dan biaya yang sama murahnya dengan tempat asal mereka. “Kami melihat, ini betul-betul bisnis yang sangat dibutuhkan dan diinginkan orang,” tutur Willy yang kini menjabat Direktur FA.


Namun, untuk mewujudkannya memang tak mudah. Kerja keras mereka membangun infrastruktur teknologi dan jaringan dengan ribuan toko bunga terbukti tidak mendatangkan keuntungan secara cepat. Selama beberapa waktu, FA yang bermuara pada situs www.floweradvisor.co.id terus merugi. Kala itu, pendiri awal FA pun memutuskan mundur. Willy, yang sudah kadung jatuh cinta pada “bayinya”, memilih bertahan.


Willy sadar, tak mungkin ia berjuang sendiri. Maka, ia pun mencari pasangan bisnis lagi. Dia ingat, semasa kuliah Administrasi Bisnis di University of Southern Queensland, Australia, ada teman sekelas yang kerap sehati dengannya, yaitu Aldwin Wijaya. Setelah dirayu dengan konsep bisnis FA yang menjanjikan, Aldwin yang kala itu tengah sibuk mengurusi pabrik oli keluarga di Karawang pun luluh dan menerima pinangan bisnis Willy.


“Saya join tahun 2011. Saya tertarik karena melihat pasarnya bukan satu kota atau satu negara, tapi global,” ungkap Aldwin, Direktur Pengelola FA, ketika diwawancara SWA bersama mitra bisnisnya di kantor mereka di Kedoya Elok Plaza Blok DD/64, Jl. Panjang, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.


Berbekal kemampuan search engine optimization yang bertujuan menempatkan situs mereka dalam peringkat pertama halaman pencari Google di kategori toko bunga, mereka mulai membangun bisnis bersama di bawah PT Aldmic Indonesia.